Rabu, 02 Mei 2012

1 materi kuliah


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
obat-obatan

MAKALAH IDK III
OBAT GENERIK

                                                               




Disusun Oleh :
1.           Lely Liana Liasari         (11620564)
2.           Mei Eka W                     (11620567)
3.           Widya Febriani             (11620576)
4.           Enjang  B C                    (11620557)
5.           Ahlis  Irhas N                (11620543)
6.           Nanang Pujiatmoko       (11620569)
7.           Giarto                             (11620560)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KADIRI
2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat ALLAH S.W.T yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-NYA,sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Ilmu Dasar Keperawatan III tentang Farmakologi. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai acuan bagi kami para perawat,mahasiswa dan dosen Universitas Kadiri untuk dapat mengetahui definisi maupun kegunaan dari “Obat Generik” agar dapat diterapkan dalam praktik kerja pada klien dirumah sakit dengan sebaik-baiknya.Namun demikian tidak menutup kemungkinan untuk dibaca oleh kalangan profesi keperawatan maupun profesi kesehatan dan masyarakat umum lainya.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan makalah ini tidak dapat terlaksana tanpa bantuan dari berbagai pihak.Untuk itu seluruh anggota tim penyusun menyampaikan ucapan terimakasih kepada dosen pengajar ”Bu.Wiwin S., S. Kep, Ns”yang telah memberikan kesempatan dan dorongan dari awal hingga terwujudnya tugas ini.
Terakhir kami sampaikan kepada semua pembaca yang tertarik untuk membaca makalah ini.Semoga dengan adanya makalah ini akan turut membantu pengembangan profesi keperawatan.Saran dan masukan senantiasa kami harapkan bagi kesempurnaan makalah ini.
Kediri, 27Maret 2012

                                                                                                            Penulis


DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI....................................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................... 2
1.3 Tujuan................................................................................................................. 2
1.3.1 Tujuan umum............................................................................................ 2
1.3.2 Tuuan khusus............................................................................................ 2
1.4 Manfaat............................................................................................................... 2
BAB 2 LANDASAN TEORI.............................................................................................. 4
2.1 Pengertian Obat................................................................................................. 4
BAB 3 PEMBAHASAN..................................................................................................... 6
3.1 Pengertian Obat Generik.................................................................................. 6
3.2 Macam-macam Obat Generik........................................................................... 6
3.3 Penyebab Penggunaan Obat Generik Kurang Diminati.................................. 8
iii
 
BAB 4 PENUTUP.............................................................................................................. 9
4.1 Kesimpulan.......................................................................................................... 9
4.2 Saran.................................................................................................................... 9
LAMPIRAN........................................................................................................................ 10
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 18




















                                                                   
                                                                   


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kesadaran masyarakat Indonesia akan konsumsi obat generik masih kurang. Penyebabnya adalah  masih adanya anggapan bahwa obat generik yang harganya lebih murah tidak berkualitas jika dibandingkan dengan obat bermerek. Konsumsi obat generik di Indonesia paling rendah jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Di Thailand, konsumsi obat generik mencapai 25% dari penjualan obatnya, sedangkan di Malaysia mencapai 20% pada tahun 2007. Sepanjang tahun 2007, penjualan obat generik yang dikonsumsi masyarakat Indonesia hanya mencapai 8,7% dari total penjualan obat (Dinas Kesehatan Jawa Barat, 2009) .
1
Harga obat di Indonesia lebih mahal jika dibandingkan dengan harga obat di negara lain. Penyebabnya adalah harga obat tersebut termasuk ke dalam biaya distribusi, rumitnya tata niaga obat, pajak pertambahan nilai, dan biaya promosi pada para dokter.Sebenarnya kualitas obat generik tidak kalah dengan obat bermerek lainnya. Hal ini dikarenakan obat generik juga mengikuti persyaratan dalam Cara Pembutan Obat yang Baik (CPOB) yang dikeluarkan  oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI).  Selain itu, obat generik juga harus lulus uji bioavailabilitas/bioekivalensi (BA/BE).  Uji ini dilakukan untuk menjaga mutu obat generik. Pengujian BA dilakukan untuk mengetahui kecepatan zat aktif dari produk obat diserap oleh tubuh ke sistem peredaran darah.Pada beberapa obat bermerek dagang, terdapat bahan tambahan yang digunakan selain zat aktif, yatujuannya adalah untuk mengurangi reaksi alergi tubuh terhadap zat aktif, namun bagi sebagian orang, zat tambahan dapat menyebabkan alergi. Oleh karena itu, sekelompok orang tersebut lebih cocok menggunakan obat generik.
1.2  Rumusan Masalah
1.     Apakah  definisi obat generik itu?
2.     Sebutkan macam-macam obat generik?
3.     Penyebab apa saja yang mempegaruhi penggunaan obat generic kurang diminati?
4.     Apakah efek samping, dan berapa dosis dari obat generic?

1.3  Tujuan
1.3.1       Tujuan Umum
-        Mengetahui definisi obat generik
-        Mengetahui macam-macam obat generik
-        Mengetahui manfaat obat generik
-        Mengetahui perbedaan obat generik dengan obat-obat lain

1.3.2       Tujuan Khusus
-        Mengetahui dosis yang baik dalam penggunaan obat generik
-        Mengetahui kegunaan obat generik dalam mengobati penyakit

1.4  Manfaat
-        ManfaatTeoritis
Mahasiswa dapat lebih memahami dan mengerti tentang obat generic lebih mendalam. Mahasiswa mampu mendefinisikan secara benar tentang obat generik serta mengetahui cara penggunaan obat generik secar benar dalam membantu proses penembuhan penyakit.
Manfaat Praktis
-        Bagi dosen
Dapat menjadi standar pembelajaran dalam mata kuliah farmakologi yang berkaitan dengan obat generik.
-        Bagi  Pembaca
Dapat menjadi sumber informasi agar mengetahui jenis-jenis obat yang aman.
-        Bagi Instansi Kesehatan
Dapat menjadi tolak ukur dalam pemberian obat generik kepada pasien.




















BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian obat
Yang dimaksud dengan obat disini adalah semua zat baik itu kimiawi, hewani, maupun nabati yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan, atau mencegah penyakit berikut gejalanya. Di beberapa pustaka disebutkan bahwa tidak semua obat memulai riwayatnya sebagai obat anti penyakit, namun ada pula yang pada awalnya digunakan sebagai alat ilmu sihir, kosmetika, atau racun untuk membunuh musuh. Misalnya, strychnine dan kurare mulanya digunakan sebagai racun-panah penduduk pribumi Afrika dan Amerika Selatan. Contoh yang lebih baru ialah obat kanker nitrogen-mustard yang semula digunakan sebagai gas-racun (mustard gas) pada perang dunia pertama. (Obat-obat Penting,2002).
4
       Di kalangan masyarakat istilah obat biasanya dikenal dalam berbagai pengelompokan, seperti :  obat paten, obat generik, obat tradisional/ jamu, obat keras, narkotika, obat dengan resep, obat tanpa resep, obat racikan, obat cina dan istilah obat lainnya misalnya yang berkaitan dengan harga misalnya istilah obat murah dan obat mahal. Pengertian obat paten atau dalam kamus obat dikenal dengan nama spesialite adalah obat milik suatu perusahaan dengan nama khas yang dilindungi hukum, yaitu merek terdaftar atau proprietary name. Sedangkan yang dimaksud dengan obat generik adalah nama obat sesuai dengan kandungan zat berkhasiat obat tersebut. Sebagai contoh : Asam Mefenamat (nama/obat generik) terdapat dalam obat paten seperti Ponstan, Mefinal, Pondex, Topgesic dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan Amoxycillin (nama/obat generic) terdapat dalam nama obat paten seperti Amoxsan, Kalmoxillin, Kimoxil, dan juga masih banyak lagi nama obat paten dengan kandungan yang sama.
            Walaupun berisikan kandungan zat berkhasiat dengan nama generik/ official yang sama namun setiap obat paten mempunyai harga yang berbeda-beda dari pabrik yang memproduksiya. Perbedaan harga tersebut umumnya terkait dengan faktor-faktor pembuatan obat tersebut dari mulai jenis bahan baku yang digunakan, alat-alat produksinya, biaya produksi, mutu pengujiannya, cara pengemasan sampai dengan promosi pemasarannya. Semua faktor tersebut kemudian dihitung serinci mungkin sehingga diperoleh harga netto dari pabrik yang selanjutnya dijual dalam jumlah besar kepada para pedagang besar farmasi(PBF)/ distributor. Apotek kemudian membeli obat tersebut sebagai harga netto untuk apotek (HNA) yang selanjutnya dijual kepada konsumen dengan harga yang berbeda-beda tergantung masing-masing apotek menetapkan faktor harga jual apotek (HJA) nya. Perbedaan harga yang sampai ke konsumen ini masih mendapat toleransi dari pemerintah pada range faktor harga penjualan/ harga eceran tertinggi (HET) tertentu.
2.2 Indikasi Pengunaan Obat Generik
Beberapa indikasi yang didapat dari obat  generic adalah:
-        Harga yang didapat lebih murah.
-        Mutu obat generik tidak berbeda dengan obat paten karena bahan bakunya sama. Hanya saja, modelnya beraneka ragam. Pada obat generik kemasannya dibuat biasa, karena yang terpenting bisa melindungi produk yang ada di dalamnya. Namun, yang bermerek dagang kemasannya dibuat lebih menarik dengan berbagai warna. Kemasan itulah yang membuat obat bermerek lebih mahal.



BAB III
                                                                 PEMBAHASAN
3.1  Pengertian obat generik
       Obat generik adalah obat yang telah habis masa patennya, sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalti.

3.2  Macam- macam obat generik
       Terdapat dua jenis obat generik, yaitu Obat Generik Berlogo (OGB) dan obat generik bermerek (branded generic) atau biasa disebut obat dagang. Sebenarnya tidak ada perbedaan zat aktif pada kedua jenis obat generik ini. Obat Generik Berlogo (OGB) pertama kali dikenalkan kepada masyarakat pada tahun 1991 oleh pemerintah dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan obat masyarakat menengah ke bawah. Jenis obat ini mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang merupakan obat esensial untuk penyakit tertentu.
Sebelumnya, tahun 1985, pemerintah telah mewajibkan penggunaan obat generik dalam pelayanan kesehatan pemerintah. Demi terlaksananya penggunaan obat generik, maka dibuatlah landasan hukum untuk pengawasan penggunaan obat generik, yaitu SK Menkes No 085/Menkes/Per/I/1989 yang mewajibkan penulisan resep dan penggunaan obat generik di fasilitas kesehatan pemerintah . Sebenarnya kualitas obat generik tidak kalah dengan obat bermerek lainnya. Hal ini dikarenakan obat generik juga mengikuti persyaratan dalam Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang dikeluarkan  oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI).
Selain itu, obat generik juga harus lulus uji bioavailabilitas atau bioekivalensi (BA/BE).  Uji ini dilakukan untuk menjaga mutu obat generik. Studi BE dilakukan untukmembandingkan profil pemaparan sistematik (darah) yang memiliki bentuk tampilan berbeda-beda (tablet, kapsul, sirup, salep, dan sebagainya) dan diberikan melalui rute pemberian yang berbeda-beda. Pengujian BA dilakukan untuk mengetahui kecepatan zat aktif dari produk obat diserap oleh tubuh ke sistem peredaran darah.Pada beberapa obat bermerek dagang, terdapat bahan tambahan yang digunakan selain zat aktif.
 Hal ini biasanya dilakukan untuk mengurangi reaksi alergi tubuh terhadap zat aktif, namun bagi sebagian orang, zat tambahan malah dapat menyebabkan alergi. Oleh karena itu, sekelompok orang tersebut lebih cocok menggunakan obat generik. Perbedaan antara obat bermerek dan obat generik hanya terdapat pada tampilan obat yang lebih menawan dan kemasan yang lebih bagus sehingga terasa lebih istimewa. Penggunaan obat generik pun dipengaruhi oleh pemberian resep dokter. Tidak semua dokter dengan senang hati memberikan resep obat generik kepada pasien. Banyak alasan yang melatarbelakangi hal tersebut, salah satunya adalah pandangan masyarakat yang menganggap remeh obat generik sehingga akhirnya akan mengurangi reputasi dokter.
Hal lain yang bisa mempengaruhi yaitu adanya pesan sponsor kepada dokter tersebut dan belum adanya obat generik dari obat paten yang akan diberikan kepada pasien. Selain itu, pasien biasanya juga enggan untuk meminta obat generik kepada dokternya sehingga penggunaan obat generic dengan resep dokter masih sangat kurang. Mulai saat ini, kita sebagai pasien harus bersikap lebih aktif lagi mengenai biaya kesehatan yang dikeluarkan. Oleh karena itu, jangan terlalu cepat menghakimi obat hanya karena obat tersebut tergolong obat generik yang notabene berharga lebih murah.

3.3 Penyebab Penggunaan Obat Generik Kurang Diminati
Beberapa penyebab penggunaan obat generik kurang diminati masyarakat karena  adanya anggapan bahwa obat generik yang harganya lebih murah tidak berkualitas jika dibandingkan dengan obat dagang. Kemasan obat generik pun menjadi salah satu faktor kurang diminati nya obat generik ini. Generik kemasannya dibuat biasa, karena yang terpenting bisa melindungi produk yang ada di dalamnya. Namun, yang bermerek dagang kemasannya dibuat lebih menarik dengan berbagai warna.
Kemasan itulah yang membuat obat bermerek lebih mahal. Meskipun mempunyai mutu yang sama. Faktor yang juga tak kalah penting dalam kurang berminat nya penggunaan obat generik adalah ketersediaan obat ini. Menurut data yang diperoleh di salah satu rumah sakit dan di apotik x hanya tersedia sekitar 69,7%  dari target yang tersedia adalah 95%.

3.4 Penggolongan obat menurut Kandungan bahannya
Obat saraf dan otot golongan analgesic atau obat yang dapat menghilangkan  rasa sakit/ obat nyeri sedangkan obat antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan suhu tubuh.
Analgesik sendiri dibagi dua yaitu :
  1. Analgesik opioid / analgesik narkotika Analgesik opioid  merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri.
Tetap semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ ketergantungan, maka usaha untuk mendapatkan suatu analgesik  yang ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi.
Penggolongan analgesik – narkotik adalah sebagai berikut :
          alkaloid alam              : morfin, codein
          derivat semi sintesis : heroin
          derivat sintetik           : metadon, fentanil
          antagonis morfin        : nalorfin, nalokson dan pentazocin
Obat generik, indikasi, kontra indikasi dan efek samping
1.               Morfin
Indikasi             : Analgesik selama dan setelah pembedahan, analgesi pada situasi
lain.
Kontra indikasi : Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut,   
  Peningkatan tekanan otak atau cidera kepala.
Efek samping              : Mual, muntah, konstipasi, ketergantungan atau adiksi. Pasda over
  dosis Menimbulkan keracunan dan dapat menyebabkan keracunan   
  dan dapat menyebabkan kematian.
Sediaan           : HCl (generik) siruf 5mg / 5ml, tablet10mg, 30mg, 60mg, injeksi   
  10mg / ml,20mg / ml
2.      Kodein fosfat 
Indikasi           : Nyeri ringan sampai sedangKontra indikasiDepresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala
Efek samping : Mual, muntah, konstipasi, ketergantungan /adiksi pada over dosis menimbulkankeracunan dan dapat menyebabkan kematian.
Sediaan           : Kodein fosfat (generik) tablet 10 mg, 15 mg,20 mg 
3.     Fentanil 
Indikasi           : Nyeri kronik yang sukar diatasi pada kanker 
Kontra indikasi : Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala
Efek samping    : Mual, muntah, konsipasi, ketergantungan /adiksi pada over dosis menimbulkankeracunan dan dapat menyebabkan kematian.
Sediaan           : Bentuk sediaan dapat berupa injeksi ataucakram transdermal (lama kerja yang panjang)
4.      Petidin HCl 
Indikasi           : Nyeri sedang sampai berat, nyeri pasca bedah.
Kontra indikasi : Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala.
Efek samping   : Mual, muntah, konstipasi, ketergantungan /adiksi pada over dosis  menimbulkan.
Sediaan           : Petidin (generik) injeksi 50 mg/ml, tabl 50 mg92.
5.     Tramadol HCl 
Indikasi           : Nyeri sedang sampai berat.
Kontra indikasi: Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala.
Efek samping  : Mual, muntah, konstpasi, ketergantungan /adiksi pada over dosis menimbulkan keracunan dan dapat menyebabkan kematian.
Sediaan           : Tramadol (generik) injeksi 50 mg/ml,tablet 50 mg. 
6.     Nalorfin, Nalokson
Adalah antagonis morfin, bekerja meniadakan semua khasiat morfin, dan bersifat analgesik. Khusus digunakan pada kasus over dosis atau intoksikasi obat-obat analgetik narkotik.
Ada 3 golongan obat ini yaitu :
    1. Obat yang berasal dari opium-morfin,
    2. Senyawa semisintetik morfin, dan
    3. Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.
  1. Analgesik lainnya, Seperti golongan salisilat seperti aspirin,  golongan para amino fenol seperti paracetamol, dan golongan lainnya seperti ibuprofen, asam mefenamat, naproksen/naproxen dan banyak lagi.
Berikut contoh obat-obat analgesik antipiretik yang beredar di Indonesia :
  1. Paracetamol/ acetaminophen
Merupakan derivatpara amino fenol. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesic dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesik, parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena dapat menimbulkan nefropati analgesik.
Jika dosis terapi tidak memberimanfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong. Dalam sediaannya sering dikombinasi dengan coffein yang berfungsi meningkatkan efektivitasnya tanpa perlu meningkatkan dosisnya.
  1. Ibu profen
Ibu profen merupakan derivate sampropionat  yang diperkenalkan banyak negara.Obat ini bersifata nalgesik dengan daya anti inflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama dengan aspirin. Ibu profen tidak dianjurkan diminum oleh wanita hamil dan menyusui.
  1. Asam mefenamat
Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. Asam mefenamat sangat kuat terikat pada protein plasma, sehingga interaksi dengan obat anti koagulan harus diperhatikan. Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dyspepsia dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.
  1. Tramadol
Tramadol  adalah senyawa sintetik yang berefek seperti morfin. Tramadol digunakan untuk sakit nyeri menengah hingga parah. Sediaan tramadol pelepasan lambat digunakan untuk menangani nyeri menengah hingga parah yang memerlukan waktu yang lama. Minumlah tramadol sesuai dosis yang diberikan, jangan minum dengan dosis lebih besar atau lebih lama dari yang diresepkan dokter. Jangan minum tramadol lebih dari 300 mg sehari.
  1. Benorylate
Benorylate adalah kombinasi dari parasetamol dan ester aspirin. Obat ini digunakan sebagai obat anti inflamasi dan antipiretik. Untuk pengobatan demam pada anak obat ini bekerja lebih baik disbanding dengan parasetamol dan aspirin dalam penggunaan yang terpisah. Karena obat ini derivate dari aspirin maka obat ini tidak boleh digunakan untuk anak yang mengidap Sindrom Reye.
  1. Fentanyl
Fentanyl termasuk obat golongan analgesic narkotika. Analgesik narkotika digunakan sebagai penghilang nyeri. Dalam bentuk sedia aninjeksi IM (intramuskular) Fentanyl digunakan untuk menghilangkan sakit yang disebab kankanker. Menghilangkan periode sakit pada kanker adalah dengan menghilangkan rasa sakit secara menyeluruh dengan obat untuk mengontrol rasa sakit yang persisten/ menetap. Obat Fentanyl digunakan hanya untuk pasien yang siap menggunakan analgesic narkotika.
Fentanyl bekerja di dalam system syaraf pusat untuk menghilangkan rasa sakit. Beberapa efek samping juga disebabkan oleh aksinya di dalam system syaraf pusat. Pada pemakaian yang lama dapat menyebabkan ketergantungan tetapi tidak sering terjadi bila pemakaiannya sesuai dengan aturan.
Ketergantungan biasa terjadi jika pengobatan dihentikan secara mendadak. Sehingga untuk mencegah efek samping tersebut perlu dilakukan penurunan dosis secara bertahap dengan periode tertentu sebelum pengobatan dihentikan.
  1. Naproxen
Naproxen termasuk dalam golongan anti inflamasi non steroid. Naproxen bekerja dengan cara menurunkan hormon yang menyebabkan pembengkakan dan rasa nyeri di tubuh.
  1. Obat lainnya
Metamizol, Aspirin (Asetosal/ Asamasetilsalisilat), Dypirone/ Methampiron, Floctafenine, Novaminsulfonicum, dan Sufentanil. Untuk pemilihan golongan obat analgesic dan antipiretik yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.
Di medicastore anda dapat mencari informasi obat seperti : kegunaan atau indikasi obat, generic atau kandungan obat, efek samping obat, kontra indikasi obat, hal apa yang harus menjadi perhatian sewaktu konsumsi obat, gambar obat yang anda pilih hingga harga obat dengan berbagai sediaan yang dibuat oleh pabrikobat. Sehingga anda dapat memilih dan beli obat sesuai dengan kebutuhan anda.











BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Obat generik adalah obat yang sudah habis masa patennya dan dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi serta dapat dikonsumsi oleh semua kalangan karena harganya yang terjangkau dan telah mendapat rekomendasi dari pemerintah. Obat ini memiliki kualitas yang sama dengan obat paten serta dijamin keamanannya.

4.2 Saran
Meskipun harganya murah tetapi obat generik aman untuk dikonsumsi oleh semua kalangan dengan dosis tertentu. Jadi, konsumsilah obat generik sesuai dengan dosis yang telah dianjurkan oleh dokter.








14
 

LAMPIRAN

Daftar Obat Generik


NAMA GOLONGAN/ KELAS TERAPI
NO
OBAT GENERIK
Analgesik, Antipiretik, Antiinflamasi nonsteroid, Antipirai
1
Acetosal
2
Allopurinol
3
As. Mefenamat
4
Fentanil
5
Ibuprofen
6
Ketoprofen
7
Ketorolak
8
Kolkisin
9
Meloksikam
10
Morfin
11
Na Diklofenak
12
Parasetamol
13
Pethidin
14
Piroksikam
15
Tramadol
Anastetik


Antialergi dan Obat untuk Anafilaksis
16
Cetrizin
17
Deksametason
18
Dipenhidramin
19
Epinefrin
20
Klorpheniramin
21
Loratadin
Antidot dan Obat lain untuk Keracunan
22
Kalsium Glukonat
23
Mg Sulfat
24
Na Bikarbonat
25
Nalokson
26
Protamin Sulfat
Antiepilepsi – Antikonvulsi
27
As. Valproat
28
Diazepam
29
Fenitoin
30
Karbamazepin
31
Phenobarbital
Anti Infeksi
32
Asiklovir
33
Amikasin
34
Amoksisilin
35
Ampisilin
36
Benzipenisilin
37
Ciprofloksasin
38
Dapson
39
Dikloksasilin
40
Doksisiklin
41
Efavirens
42
Eritromisin
43
Ethambutol
44
Fenoksimetilpenisilin
45
Flukonazol
46
Gentamisin
47
Griseofulvin
48
INH
10
49
Ketokonazol
50
Klindamisin
51
Kloramfenikol (Thiampenikol)
52
Klorokuin
53
Kotrimoksazol
54
Kuinin
55
Lamivudin
56
Levofloksasin
57
Metronidazol
58
Nevirapine
59
Nistatin
60
Pirantel
61
Pirazinamid
62
Primakuin
63
Rifampisin
64
Sefadroksil
65
Sefiksim
66
Sefotaksim
67
Seftazidim
68
Seftriakson
69
Stavudin
70
Streptomisin
71
Sulfasalazin
72
Tetrasiklin
Antimigrain
73
Ergotamin
Antineoplastik, Imunosupresan dan obat untuk terapi paliatik
74
Asparaginase

75
Azatrioprin

76
Bleomisin

77
Cisplatin

78
Dakarbasin

79
Doksorubisin

80
Etoposid

81
Fluoro urasil

82
Hidroksil urea

83
Medroksiprogesteronasetat

84
Metotreksat

85
Siklofosfamid

86
Siklosforin

87
Sitarabin

88
Tamoksifen

89
Testosteron

90
Vinblastin

91
Vinkristin
Antiparkinson
92
Levodopa + Karbidopa

93
Triheksifenidil
Obat yang mempengaruhi darah
94
Fe Sulfat

95
Fitomenadion

96
Heparin

97
Warfarin

98
Traneksamat
Produk Darah


Diagnostik


Disinfektan & Antiseptik
Gigi & Mulut
99
Povidon iodin



Diuretik
100
Furosemida

101
HCT

102
Manitol

103
Spironolakton
Hormon, Obat endokrin lain dan Kontraseptik
Kardiovaskuler
Kulit, Obat Topikal
Larutan Dialisis Peritoneal
Larutan Elektrolit
Obat Mata
Oksitoksik dan Relaksan Uterus
Psikofarmaka
104
Acarbose

105
Etinil Estradiol

106
Glibenklamid

107
Gliklazid

108
Glikuidon

109
Glimepirid

110
Glipizid

111
Hidrokortison

112
Insulin

113
Levonorgestrel

114
Metformin

115
Metil Prednisolon

116
Pioglitazon

117
Prednison

118
Repaglinid

119
Rosiglitazon

120
Amlodipin

121
Atropin

122
Carvedilol

123
Digoksin

124
Dobutamin

125
Dopamin

126
ISDN

127
KCL

128
Klonidin

129
Lisinopril

130
Metildopa

131
Nifedipin

132
Nitrogliserin

133
Propanolol

134
Ramipril

135
Simvastatin

136
Streptokinase

137
Terazosin

138
Valsartan

139
Verapamil

140
Asam Retinoat

141
Basitrasin – Polimiksin B

142
Betametason

143
Mikonazol

144
Na Fusidat

145
Asetazolamid

146
Pilokarpin

147
Sulfacetamid

148
Timolol

149
Isoksuprin

150
Metil Ergometrin

151
Oksitosin

152
Alprazolam

153
Amitriptilin

154
CPZ

155
Flufenasin

156
Fluoksetin

157
Haloperidol

158
Quetiapin

159
Risperidon
Relaksan Otot Perifer dan Penghambat Kolinesterase
160
Pankuronium

161
Neostigmin

162
Piridostigmin

163
Suksametonium

164
Vekuronium
Saluran Cerna
165
Antasida

166
Bisakodil

167
Cimetidin

168
Dimenhidrinat

169
Domperidon

170
Lansoprazol

171
Loperamid

172
Metoklopramid

173
Neomisin

174
Omeprazol

175
Ranitidin

176
Sukralfat
Saluran Napas
177
Ambroksol

178
Aminophilin

179
Asetil Sistein

180
Bromheksin

181
Budesonid

182
DMP

183
GG

184
Ipatropium

185
Ketotifen

186
Salbutamol

187
Terbutalin
Obat yang mempengaruhi sistim imun
188
Hepatitis B rekombinan

189
Serum Antibisa ular

190
Serum Antidifteri

191
Serum Antirabies

192
Serum Antitetanus

193
Serum Imunoglobulin

194
Vaksin BCG

195
Vaksin Campak

196
Vaksin DTP

197
Vaksin jerap difteri tetanus

198
Vaksin meningokokus polisakarida A + C

199
Vaksin polio

200
Vaksin Rabies
Telinga, Hidung dan Tenggorokan
201
Oksimetazolin
Vitamin dan Mineral
202
Vitamin B6

203
Vitamin C




DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1992, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992tentang Kesehatan. Bab I Pasal 1.
Sriana Aziz. 2012. Obat generik. from http://www.pdf obat generik.com/docs//. Tanggal  17 Maret 2012, pukul 09.00 WIB
NN. 2012.Pedoman obat generik. from http://pdf obat generik.com//. Tanggal 17 Maret 2012, pukul 09.05 WIB
NN. 2012. Obat generik. from http://www.obat generik.com/docs//. Tanggal  20 Maret 2012, pukul 10.00 WIB
NN. 2012.Pedoman obat generik. from http://obat generik.com//. Tanggal 20 Maret 2012, pukul 14.00 WIB