obat-obatan
Harga obat
di Indonesia lebih mahal jika dibandingkan dengan harga obat di negara lain.
Penyebabnya adalah harga obat tersebut termasuk ke dalam biaya distribusi,
rumitnya tata niaga obat, pajak pertambahan nilai, dan biaya promosi pada para
dokter.Sebenarnya kualitas obat generik tidak kalah dengan obat bermerek
lainnya. Hal ini dikarenakan obat generik juga mengikuti persyaratan dalam Cara
Pembutan Obat yang Baik (CPOB) yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat
dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI). Selain
itu, obat generik juga harus lulus uji bioavailabilitas/bioekivalensi
(BA/BE). Uji ini dilakukan untuk menjaga mutu obat generik. Pengujian BA
dilakukan untuk mengetahui kecepatan zat aktif dari produk obat diserap oleh
tubuh ke sistem peredaran darah.Pada beberapa obat bermerek dagang, terdapat
bahan tambahan yang digunakan selain zat aktif, yatujuannya adalah untuk
mengurangi reaksi alergi tubuh terhadap zat aktif, namun bagi sebagian orang,
zat tambahan dapat menyebabkan alergi. Oleh karena itu, sekelompok orang
tersebut lebih cocok menggunakan obat generik.
Di
kalangan masyarakat istilah obat biasanya dikenal dalam berbagai pengelompokan,
seperti : obat paten, obat generik, obat
tradisional/
jamu, obat keras, narkotika, obat dengan resep, obat
tanpa resep, obat racikan, obat cina dan istilah obat lainnya misalnya yang
berkaitan dengan harga misalnya istilah obat murah dan obat mahal. Pengertian
obat paten atau dalam kamus obat dikenal dengan nama spesialite adalah obat milik suatu perusahaan dengan nama khas yang
dilindungi hukum, yaitu merek terdaftar atau proprietary name. Sedangkan yang dimaksud dengan obat generik
adalah nama obat sesuai dengan kandungan zat berkhasiat obat tersebut. Sebagai
contoh : Asam Mefenamat (nama/obat generik) terdapat dalam obat paten seperti
Ponstan, Mefinal, Pondex, Topgesic dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan Amoxycillin (nama/obat generic)
terdapat dalam nama obat paten seperti Amoxsan, Kalmoxillin, Kimoxil, dan juga
masih banyak lagi nama obat paten dengan kandungan yang sama.
MAKALAH IDK III
OBAT GENERIK
Disusun Oleh :
1.
Lely Liana Liasari (11620564)
2.
Mei Eka W (11620567)
3.
Widya Febriani (11620576)
4.
Enjang B C (11620557)
5.
Ahlis Irhas N (11620543)
6.
Nanang Pujiatmoko (11620569)
7.
Giarto (11620560)
PROGRAM
STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS
ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS
KADIRI
2012
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat ALLAH S.W.T yang telah
melimpahkan rahmat serta hidayah-NYA,sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
makalah mata kuliah Ilmu Dasar Keperawatan III tentang
Farmakologi. Adapun tujuan dari
penyusunan makalah ini adalah sebagai acuan bagi kami para perawat,mahasiswa
dan dosen Universitas Kadiri untuk dapat mengetahui
definisi maupun kegunaan dari “Obat Generik” agar dapat diterapkan dalam praktik kerja pada klien
dirumah sakit dengan sebaik-baiknya.Namun demikian tidak menutup kemungkinan
untuk dibaca oleh kalangan profesi keperawatan maupun profesi kesehatan dan
masyarakat umum lainya.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan makalah ini
tidak dapat terlaksana tanpa bantuan dari berbagai pihak.Untuk itu seluruh
anggota tim penyusun menyampaikan ucapan terimakasih kepada dosen pengajar ”Bu.Wiwin
S., S. Kep, Ns”yang telah
memberikan kesempatan dan dorongan dari awal hingga terwujudnya tugas ini.
Terakhir kami sampaikan kepada semua pembaca yang
tertarik untuk membaca makalah ini.Semoga dengan adanya makalah ini akan turut
membantu pengembangan profesi keperawatan.Saran dan masukan senantiasa kami
harapkan bagi kesempurnaan makalah ini.
Kediri, 27Maret
2012
Penulis
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI....................................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................................... 1
1.1
Latar Belakang................................................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah............................................................................................... 2
1.3
Tujuan................................................................................................................. 2
1.3.1
Tujuan umum............................................................................................ 2
1.3.2
Tuuan khusus............................................................................................ 2
1.4
Manfaat............................................................................................................... 2
BAB 2 LANDASAN TEORI.............................................................................................. 4
2.1
Pengertian Obat................................................................................................. 4
BAB 3 PEMBAHASAN..................................................................................................... 6
3.1
Pengertian Obat Generik.................................................................................. 6
3.2
Macam-macam Obat Generik........................................................................... 6
3.3 Penyebab Penggunaan Obat Generik Kurang Diminati.................................. 8
iii
|
BAB
4 PENUTUP.............................................................................................................. 9
4.1 Kesimpulan.......................................................................................................... 9
4.2 Saran.................................................................................................................... 9
LAMPIRAN........................................................................................................................ 10
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 18
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesadaran masyarakat Indonesia akan
konsumsi obat generik masih kurang. Penyebabnya adalah masih adanya anggapan bahwa obat generik yang
harganya lebih murah tidak berkualitas jika dibandingkan dengan obat bermerek.
Konsumsi obat generik di Indonesia paling rendah jika dibandingkan dengan
negara ASEAN lainnya. Di Thailand, konsumsi obat generik mencapai 25% dari
penjualan obatnya, sedangkan di Malaysia mencapai 20% pada tahun 2007.
Sepanjang tahun 2007, penjualan obat generik yang dikonsumsi masyarakat
Indonesia hanya mencapai 8,7% dari total penjualan obat (Dinas Kesehatan Jawa
Barat, 2009) .
1
|
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah
definisi
obat
generik itu?
2. Sebutkan
macam-macam obat generik?
3. Penyebab
apa saja yang mempegaruhi penggunaan obat generic kurang diminati?
4. Apakah efek samping, dan berapa dosis dari obat
generic?
1.3 Tujuan
1.3.1
Tujuan
Umum
-
Mengetahui definisi
obat generik
-
Mengetahui macam-macam
obat generik
-
Mengetahui manfaat obat
generik
-
Mengetahui perbedaan
obat generik dengan obat-obat
lain
1.3.2
Tujuan
Khusus
-
Mengetahui dosis yang
baik dalam penggunaan obat generik
-
Mengetahui kegunaan
obat generik dalam mengobati penyakit
1.4 Manfaat
-
ManfaatTeoritis
Mahasiswa dapat lebih memahami dan mengerti tentang obat
generic lebih mendalam. Mahasiswa mampu
mendefinisikan secara benar tentang obat generik serta mengetahui cara
penggunaan obat generik secar benar dalam membantu proses penembuhan penyakit.
Manfaat Praktis
-
Bagi dosen
Dapat menjadi standar
pembelajaran dalam mata kuliah farmakologi yang berkaitan dengan obat generik.
-
Bagi Pembaca
Dapat
menjadi sumber informasi agar mengetahui jenis-jenis obat yang aman.
-
Bagi Instansi Kesehatan
Dapat
menjadi tolak ukur dalam pemberian obat generik kepada pasien.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian
obat
Yang
dimaksud dengan obat disini adalah semua zat baik itu kimiawi, hewani, maupun
nabati yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan, atau mencegah
penyakit berikut gejalanya. Di beberapa pustaka disebutkan bahwa tidak semua
obat memulai riwayatnya sebagai obat anti
penyakit, namun ada pula yang pada awalnya digunakan sebagai alat ilmu sihir,
kosmetika, atau racun untuk membunuh musuh. Misalnya, strychnine dan kurare
mulanya digunakan sebagai racun-panah penduduk pribumi Afrika dan Amerika Selatan.
Contoh yang lebih baru ialah obat kanker nitrogen-mustard
yang semula digunakan sebagai gas-racun (mustard
gas) pada perang dunia pertama. (Obat-obat
Penting,2002).
4
|
Walaupun berisikan kandungan zat
berkhasiat dengan nama generik/
official
yang sama namun setiap obat paten mempunyai harga yang berbeda-beda dari pabrik
yang memproduksiya. Perbedaan harga tersebut umumnya terkait dengan
faktor-faktor pembuatan obat tersebut dari mulai jenis bahan baku yang digunakan,
alat-alat produksinya, biaya produksi, mutu pengujiannya, cara pengemasan
sampai dengan promosi pemasarannya. Semua faktor tersebut kemudian dihitung
serinci mungkin sehingga diperoleh harga netto dari pabrik yang selanjutnya
dijual dalam jumlah besar kepada para pedagang besar farmasi(PBF)/ distributor. Apotek
kemudian membeli obat tersebut sebagai harga netto untuk apotek (HNA) yang selanjutnya
dijual kepada konsumen dengan harga yang berbeda-beda tergantung masing-masing
apotek menetapkan faktor harga jual apotek (HJA) nya. Perbedaan harga
yang sampai ke konsumen ini masih mendapat toleransi dari pemerintah pada range faktor harga penjualan/ harga
eceran tertinggi (HET) tertentu.
2.2
Indikasi Pengunaan Obat Generik
Beberapa indikasi
yang didapat dari obat generic adalah:
-
Harga yang didapat lebih murah.
-
Mutu obat generik tidak berbeda dengan obat paten karena
bahan bakunya sama. Hanya saja, modelnya beraneka ragam. Pada obat generik kemasannya dibuat biasa,
karena yang terpenting bisa melindungi produk yang ada di dalamnya. Namun, yang
bermerek dagang kemasannya dibuat lebih menarik dengan berbagai warna. Kemasan
itulah yang membuat obat bermerek lebih mahal.
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian obat generik
Obat generik adalah obat yang telah habis masa patennya, sehingga
dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalti.
3.2 Macam- macam obat generik
Terdapat
dua jenis obat generik, yaitu Obat Generik Berlogo (OGB) dan obat generik
bermerek (branded generic) atau biasa disebut obat dagang. Sebenarnya tidak ada
perbedaan zat aktif pada kedua jenis obat generik ini. Obat Generik Berlogo
(OGB) pertama kali dikenalkan kepada masyarakat pada tahun 1991 oleh pemerintah
dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan obat masyarakat menengah ke bawah. Jenis
obat ini mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang merupakan obat
esensial untuk penyakit tertentu.
Sebelumnya, tahun 1985, pemerintah telah mewajibkan
penggunaan obat generik dalam pelayanan kesehatan pemerintah. Demi
terlaksananya penggunaan obat generik, maka dibuatlah landasan hukum untuk
pengawasan penggunaan obat generik, yaitu SK Menkes No 085/Menkes/Per/I/1989
yang mewajibkan penulisan resep dan penggunaan obat generik di fasilitas
kesehatan pemerintah . Sebenarnya kualitas obat generik tidak kalah dengan obat
bermerek lainnya. Hal ini dikarenakan obat generik juga mengikuti persyaratan
dalam Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang dikeluarkan oleh Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI).
Selain itu, obat generik juga harus lulus uji
bioavailabilitas atau bioekivalensi (BA/BE). Uji ini dilakukan untuk
menjaga mutu obat generik. Studi BE dilakukan untukmembandingkan profil
pemaparan sistematik (darah) yang memiliki bentuk tampilan berbeda-beda
(tablet, kapsul, sirup, salep, dan sebagainya) dan diberikan melalui rute
pemberian yang berbeda-beda. Pengujian BA dilakukan untuk mengetahui kecepatan
zat aktif dari produk obat diserap oleh tubuh ke sistem peredaran darah.Pada
beberapa obat bermerek dagang, terdapat bahan tambahan yang digunakan selain
zat aktif.
Hal ini biasanya
dilakukan untuk mengurangi reaksi alergi tubuh terhadap zat aktif, namun bagi
sebagian orang, zat tambahan malah dapat menyebabkan alergi. Oleh karena itu,
sekelompok orang tersebut lebih cocok menggunakan obat generik. Perbedaan
antara obat bermerek dan obat generik hanya terdapat pada tampilan obat yang
lebih menawan dan kemasan yang lebih bagus sehingga terasa lebih istimewa. Penggunaan
obat generik pun dipengaruhi oleh pemberian resep dokter. Tidak semua dokter
dengan senang hati memberikan resep obat generik kepada pasien. Banyak alasan
yang melatarbelakangi hal tersebut, salah satunya adalah pandangan masyarakat
yang menganggap remeh obat generik sehingga akhirnya akan mengurangi reputasi
dokter.
Hal lain yang bisa mempengaruhi yaitu adanya pesan sponsor
kepada dokter tersebut dan belum adanya obat generik dari obat paten yang akan
diberikan kepada pasien. Selain itu, pasien biasanya juga enggan untuk meminta
obat generik kepada dokternya sehingga penggunaan obat generic
dengan resep dokter masih sangat kurang. Mulai saat ini, kita sebagai pasien harus bersikap lebih
aktif lagi mengenai biaya kesehatan yang dikeluarkan. Oleh karena itu, jangan
terlalu cepat menghakimi obat hanya karena obat tersebut tergolong obat generik
yang notabene berharga lebih murah.
3.3 Penyebab Penggunaan Obat Generik Kurang Diminati
Beberapa
penyebab penggunaan obat generik kurang diminati masyarakat karena adanya anggapan bahwa obat generik yang
harganya lebih murah tidak berkualitas jika dibandingkan dengan obat dagang.
Kemasan obat generik pun menjadi salah satu faktor kurang diminati nya obat
generik ini. Generik kemasannya dibuat biasa, karena yang terpenting bisa
melindungi produk yang ada di dalamnya. Namun, yang bermerek dagang kemasannya
dibuat lebih menarik dengan berbagai warna.
Kemasan itulah yang membuat obat
bermerek lebih mahal. Meskipun mempunyai mutu yang sama. Faktor yang juga tak
kalah penting dalam kurang berminat nya penggunaan obat generik adalah
ketersediaan obat ini. Menurut data yang diperoleh di salah satu rumah sakit
dan di apotik x hanya tersedia sekitar 69,7%
dari target yang tersedia adalah 95%.
3.4 Penggolongan obat menurut Kandungan
bahannya
Obat saraf dan otot golongan
analgesic atau obat yang dapat menghilangkan rasa sakit/ obat nyeri sedangkan obat antipiretik
adalah obat yang dapat menurunkan suhu tubuh.
Analgesik
sendiri dibagi dua yaitu :
- Analgesik opioid / analgesik narkotika Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri.
Tetap semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ ketergantungan, maka usaha untuk
mendapatkan suatu analgesik yang ideal
masih tetap diteruskan dengan tujuan mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan
morfin tanpa bahaya adiksi.
Penggolongan
analgesik – narkotik adalah sebagai berikut :
•
alkaloid alam : morfin, codein
•
derivat semi sintesis : heroin
•
derivat sintetik : metadon, fentanil
•
antagonis morfin : nalorfin, nalokson dan pentazocin
Obat generik, indikasi, kontra
indikasi dan efek samping
1.
Morfin
Indikasi : Analgesik selama dan setelah pembedahan, analgesi pada
situasi
lain.
Kontra indikasi : Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut,
Peningkatan tekanan otak atau cidera
kepala.
Efek samping :
Mual, muntah, konstipasi, ketergantungan atau adiksi. Pasda over
dosis Menimbulkan keracunan dan dapat
menyebabkan keracunan
dan dapat menyebabkan
kematian.
Sediaan : HCl (generik) siruf 5mg / 5ml,
tablet10mg, 30mg, 60mg, injeksi
10mg
/ ml,20mg / ml
2.
Kodein
fosfat
Indikasi : Nyeri ringan sampai sedangKontra
indikasiDepresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut,
peningkatan tekanan otak atau cedera kepala
Efek samping : Mual, muntah, konstipasi, ketergantungan
/adiksi pada over dosis menimbulkankeracunan dan dapat menyebabkan kematian.
Sediaan : Kodein fosfat (generik) tablet 10
mg, 15 mg,20 mg
3.
Fentanil
Indikasi : Nyeri kronik yang sukar diatasi
pada kanker
Kontra indikasi : Depresi pernafasan
akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau
cedera kepala
Efek samping : Mual, muntah, konsipasi, ketergantungan /adiksi pada over dosis
menimbulkankeracunan dan dapat menyebabkan kematian.
Sediaan : Bentuk sediaan dapat berupa injeksi
ataucakram transdermal (lama kerja yang panjang)
4.
Petidin
HCl
Indikasi : Nyeri sedang sampai berat, nyeri
pasca bedah.
Kontra indikasi : Depresi pernafasan
akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan
otak atau cedera kepala.
Efek samping : Mual, muntah, konstipasi, ketergantungan /adiksi pada over dosis
menimbulkan.
Sediaan : Petidin (generik) injeksi 50 mg/ml,
tabl 50 mg92.
5.
Tramadol
HCl
Indikasi : Nyeri sedang sampai berat.
Kontra indikasi: Depresi pernafasan
akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan
otak atau cedera kepala.
Efek
samping : Mual, muntah, konstpasi,
ketergantungan /adiksi pada over dosis menimbulkan keracunan dan dapat
menyebabkan kematian.
Sediaan : Tramadol (generik) injeksi 50
mg/ml,tablet 50 mg.
6.
Nalorfin,
Nalokson
Adalah
antagonis morfin, bekerja meniadakan semua khasiat morfin, dan bersifat
analgesik. Khusus digunakan pada kasus over dosis atau intoksikasi
obat-obat analgetik narkotik.
Ada
3 golongan obat ini yaitu :
- Obat yang berasal dari opium-morfin,
- Senyawa semisintetik morfin, dan
- Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.
- Analgesik lainnya, Seperti golongan salisilat seperti aspirin, golongan para amino fenol seperti paracetamol, dan golongan lainnya seperti ibuprofen, asam mefenamat, naproksen/naproxen dan banyak lagi.
Berikut contoh obat-obat analgesik antipiretik yang
beredar di Indonesia :
- Paracetamol/ acetaminophen
Merupakan derivatpara amino fenol. Di
Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesic dan antipiretik, telah menggantikan
penggunaan salisilat. Sebagai analgesik, parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu
lama karena dapat menimbulkan nefropati analgesik.
Jika dosis terapi tidak memberimanfaat,
biasanya dosis lebih besar tidak menolong. Dalam sediaannya sering dikombinasi dengan
coffein yang berfungsi meningkatkan efektivitasnya tanpa perlu meningkatkan dosisnya.
- Ibu profen
Ibu profen merupakan derivate sampropionat yang diperkenalkan banyak negara.Obat ini bersifata
nalgesik dengan daya anti inflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama
dengan aspirin. Ibu profen tidak dianjurkan diminum oleh wanita hamil dan menyusui.
- Asam mefenamat
Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. Asam
mefenamat sangat kuat terikat pada protein plasma, sehingga interaksi dengan obat
anti koagulan harus diperhatikan. Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul
misalnya dyspepsia dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.
- Tramadol
Tramadol adalah senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.
Tramadol digunakan untuk sakit nyeri menengah hingga parah. Sediaan tramadol pelepasan
lambat digunakan untuk menangani nyeri menengah hingga parah yang memerlukan waktu
yang lama. Minumlah tramadol sesuai dosis yang diberikan, jangan minum dengan dosis
lebih besar atau lebih lama dari yang diresepkan dokter. Jangan minum tramadol
lebih dari 300 mg sehari.
- Benorylate
Benorylate adalah kombinasi dari parasetamol dan
ester aspirin. Obat ini digunakan sebagai obat anti inflamasi dan antipiretik. Untuk
pengobatan demam pada anak obat ini bekerja lebih baik disbanding dengan parasetamol
dan aspirin dalam penggunaan yang terpisah. Karena obat ini derivate dari
aspirin maka obat ini tidak boleh digunakan untuk anak yang mengidap Sindrom
Reye.
- Fentanyl
Fentanyl termasuk obat golongan analgesic narkotika.
Analgesik narkotika digunakan sebagai penghilang nyeri. Dalam bentuk sedia aninjeksi
IM (intramuskular) Fentanyl digunakan untuk menghilangkan sakit yang disebab kankanker.
Menghilangkan periode sakit pada kanker adalah dengan menghilangkan rasa sakit secara
menyeluruh dengan obat untuk mengontrol rasa sakit yang persisten/ menetap. Obat
Fentanyl digunakan hanya untuk pasien yang siap menggunakan analgesic narkotika.
Fentanyl bekerja di dalam system syaraf pusat
untuk menghilangkan rasa sakit. Beberapa efek samping juga disebabkan oleh aksinya
di dalam system syaraf pusat. Pada pemakaian yang lama dapat menyebabkan ketergantungan
tetapi tidak sering terjadi bila pemakaiannya sesuai dengan aturan.
Ketergantungan biasa terjadi jika pengobatan dihentikan secara mendadak.
Sehingga untuk mencegah efek samping tersebut perlu dilakukan penurunan dosis secara
bertahap dengan periode tertentu sebelum pengobatan dihentikan.
- Naproxen
Naproxen termasuk dalam golongan anti inflamasi non steroid. Naproxen
bekerja dengan cara menurunkan hormon yang menyebabkan pembengkakan dan rasa
nyeri di tubuh.
- Obat lainnya
Metamizol, Aspirin (Asetosal/
Asamasetilsalisilat), Dypirone/ Methampiron, Floctafenine, Novaminsulfonicum,
dan Sufentanil. Untuk pemilihan golongan obat analgesic dan antipiretik yang tepat
ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.
Di medicastore anda dapat mencari informasi obat
seperti : kegunaan atau indikasi obat, generic atau kandungan obat, efek samping
obat, kontra indikasi obat, hal apa yang harus menjadi perhatian sewaktu konsumsi
obat, gambar obat yang anda pilih hingga harga obat dengan berbagai sediaan
yang dibuat oleh pabrikobat. Sehingga anda dapat memilih dan beli obat sesuai dengan
kebutuhan anda.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Obat generik adalah obat yang sudah
habis masa patennya dan dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi serta
dapat dikonsumsi oleh semua kalangan karena harganya yang terjangkau dan telah
mendapat rekomendasi dari pemerintah. Obat ini memiliki kualitas yang sama
dengan obat paten serta dijamin keamanannya.
4.2 Saran
Meskipun harganya murah tetapi obat
generik aman untuk dikonsumsi oleh semua kalangan dengan dosis tertentu. Jadi,
konsumsilah obat generik sesuai dengan dosis yang telah dianjurkan oleh dokter.
14
|
LAMPIRAN
Daftar Obat Generik
NAMA GOLONGAN/ KELAS TERAPI
|
NO
|
OBAT GENERIK
|
Analgesik, Antipiretik, Antiinflamasi nonsteroid, Antipirai
|
1
|
Acetosal
|
2
|
Allopurinol
|
|
3
|
As. Mefenamat
|
|
4
|
Fentanil
|
|
5
|
Ibuprofen
|
|
6
|
Ketoprofen
|
|
7
|
Ketorolak
|
|
8
|
Kolkisin
|
|
9
|
Meloksikam
|
|
10
|
Morfin
|
|
11
|
Na Diklofenak
|
|
12
|
Parasetamol
|
|
13
|
Pethidin
|
|
14
|
Piroksikam
|
|
15
|
Tramadol
|
|
Anastetik�
|
||
Antialergi dan Obat untuk Anafilaksis
|
16
|
Cetrizin
|
17
|
Deksametason
|
|
18
|
Dipenhidramin
|
|
19
|
Epinefrin
|
|
20
|
Klorpheniramin
|
|
21
|
Loratadin
|
|
Antidot dan Obat lain untuk Keracunan
|
22
|
Kalsium Glukonat
|
23
|
Mg Sulfat
|
|
24
|
Na Bikarbonat
|
|
25
|
Nalokson
|
|
26
|
Protamin Sulfat�
|
|
Antiepilepsi – Antikonvulsi
|
27
|
As. Valproat
|
28
|
Diazepam
|
|
29
|
Fenitoin
|
|
30
|
Karbamazepin
|
|
31
|
Phenobarbital
|
|
Anti Infeksi
|
32
|
Asiklovir
|
33
|
Amikasin
|
|
34
|
Amoksisilin
|
|
35
|
Ampisilin
|
|
36
|
Benzipenisilin�
|
|
37
|
Ciprofloksasin
|
|
38
|
Dapson
|
|
39
|
Dikloksasilin
|
|
40
|
Doksisiklin
|
|
41
|
Efavirens
|
|
42
|
Eritromisin
|
|
43
|
Ethambutol
|
|
44
|
Fenoksimetilpenisilin
|
|
45
|
Flukonazol
|
|
46
|
Gentamisin�
|
|
47
|
Griseofulvin
|
|
48
|
INH
|
|
|
Ketokonazol
|
|
50
|
Klindamisin
|
|
51
|
Kloramfenikol
(Thiampenikol)
|
|
52
|
Klorokuin
|
|
53
|
Kotrimoksazol
|
|
54
|
Kuinin
|
|
55
|
Lamivudin
|
|
56
|
Levofloksasin
|
|
57
|
Metronidazol
|
|
58
|
Nevirapine
|
|
59
|
Nistatin
|
|
60
|
Pirantel
|
|
61
|
Pirazinamid
|
|
62
|
Primakuin
|
|
63
|
Rifampisin
|
|
64
|
Sefadroksil
|
|
65
|
Sefiksim
|
|
66
|
Sefotaksim
|
|
67
|
Seftazidim
|
|
68
|
Seftriakson
|
|
69
|
Stavudin
|
|
70
|
Streptomisin
|
|
71
|
Sulfasalazin
|
|
72
|
Tetrasiklin
|
|
Antimigrain
|
73
|
Ergotamin
|
Antineoplastik, Imunosupresan dan obat untuk terapi paliatik
|
74
|
Asparaginase
|
75
|
Azatrioprin
|
|
76
|
Bleomisin
|
|
77
|
Cisplatin
|
|
78
|
Dakarbasin
|
|
79
|
Doksorubisin
|
|
80
|
Etoposid
|
|
81
|
Fluoro urasil
|
|
82
|
Hidroksil urea
|
|
83
|
Medroksiprogesteronasetat
|
|
84
|
Metotreksat
|
|
85
|
Siklofosfamid
|
|
86
|
Siklosforin
|
|
87
|
Sitarabin
|
|
88
|
Tamoksifen
|
|
89
|
Testosteron
|
|
90
|
Vinblastin
|
|
91
|
Vinkristin
|
|
Antiparkinson
|
92
|
Levodopa + Karbidopa
|
93
|
Triheksifenidil
|
|
Obat yang mempengaruhi darah
|
94
|
Fe Sulfat
|
95
|
Fitomenadion
|
|
96
|
Heparin
|
|
97
|
Warfarin
|
|
98
|
Traneksamat
|
|
Produk Darah
|
||
Diagnostik
|
||
Disinfektan & Antiseptik
Gigi & Mulut
|
99
|
Povidon iodin
|
Diuretik
|
100
|
Furosemida
|
101
|
HCT
|
|
102
|
Manitol
|
|
103
|
Spironolakton
|
|
Hormon, Obat
endokrin lain dan Kontraseptik
Kardiovaskuler
Kulit, Obat
Topikal
Larutan Dialisis
Peritoneal
Larutan
Elektrolit
Obat Mata
Oksitoksik dan
Relaksan Uterus
Psikofarmaka
|
104
|
Acarbose
|
105
|
Etinil Estradiol
|
|
106
|
Glibenklamid
|
|
107
|
Gliklazid
|
|
108
|
Glikuidon
|
|
109
|
Glimepirid
|
|
110
|
Glipizid
|
|
111
|
Hidrokortison
|
|
112
|
Insulin
|
|
113
|
Levonorgestrel
|
|
114
|
Metformin
|
|
115
|
Metil Prednisolon
|
|
116
|
Pioglitazon
|
|
117
|
Prednison
|
|
118
|
Repaglinid
|
|
119
|
Rosiglitazon
|
|
120
|
Amlodipin
|
|
121
|
Atropin
|
|
122
|
Carvedilol
|
|
123
|
Digoksin
|
|
124
|
Dobutamin
|
|
125
|
Dopamin
|
|
126
|
ISDN
|
|
127
|
KCL
|
|
128
|
Klonidin
|
|
129
|
Lisinopril
|
|
130
|
Metildopa
|
|
131
|
Nifedipin
|
|
132
|
Nitrogliserin
|
|
133
|
Propanolol
|
|
134
|
Ramipril
|
|
135
|
Simvastatin
|
|
136
|
Streptokinase
|
|
137
|
Terazosin
|
|
138
|
Valsartan
|
|
139
|
Verapamil
|
|
140
|
Asam Retinoat
|
|
141
|
Basitrasin – Polimiksin B
|
|
142
|
Betametason
|
|
143
|
Mikonazol
|
|
144
|
Na Fusidat
|
|
145
|
Asetazolamid
|
|
146
|
Pilokarpin
|
|
147
|
Sulfacetamid
|
|
148
|
Timolol
|
|
149
|
Isoksuprin
|
|
150
|
Metil Ergometrin
|
|
151
|
Oksitosin
|
|
152
|
Alprazolam
|
|
153
|
Amitriptilin
|
|
154
|
CPZ
|
|
155
|
Flufenasin
|
|
156
|
Fluoksetin
|
|
157
|
Haloperidol
|
|
158
|
Quetiapin
|
|
159
|
Risperidon
|
|
Relaksan Otot Perifer dan Penghambat Kolinesterase
|
160
|
Pankuronium
|
161
|
Neostigmin
|
|
162
|
Piridostigmin
|
|
163
|
Suksametonium
|
|
164
|
Vekuronium
|
|
Saluran Cerna�
|
165
|
Antasida
|
166
|
Bisakodil
|
|
167
|
Cimetidin
|
|
168
|
Dimenhidrinat
|
|
169
|
Domperidon
|
|
170
|
Lansoprazol
|
|
171
|
Loperamid
|
|
172
|
Metoklopramid
|
|
173
|
Neomisin�
|
|
174
|
Omeprazol
|
|
175
|
Ranitidin
|
|
176
|
Sukralfat
|
|
Saluran Napas�
|
177
|
Ambroksol
|
178
|
Aminophilin
|
|
179
|
Asetil Sistein
|
|
180
|
Bromheksin
|
|
181
|
Budesonid
|
|
182
|
DMP
|
|
183
|
GG
|
|
184
|
Ipatropium
|
|
185
|
Ketotifen
|
|
186
|
Salbutamol
|
|
187
|
Terbutalin
|
|
Obat yang mempengaruhi sistim imun
|
188
|
Hepatitis B rekombinan
|
189
|
Serum Antibisa ular
|
|
190
|
Serum Antidifteri
|
|
191
|
Serum Antirabies
|
|
192
|
Serum Antitetanus
|
|
193
|
Serum Imunoglobulin
|
|
194
|
Vaksin BCG
|
|
195
|
Vaksin Campak
|
|
196
|
Vaksin DTP
|
|
197
|
Vaksin jerap difteri tetanus
|
|
198
|
Vaksin meningokokus polisakarida A + C
|
|
199
|
Vaksin polio
|
|
200
|
Vaksin Rabies
|
|
Telinga, Hidung dan Tenggorokan
|
201
|
Oksimetazolin
|
Vitamin dan Mineral
|
202
|
Vitamin B6
|
203
|
Vitamin C
|
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,
1992, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992tentang Kesehatan.
Bab I Pasal 1.
Sriana
Aziz. 2012. Obat generik. from
http://www.pdf obat generik.com/docs//.
Tanggal 17 Maret 2012, pukul 09.00 WIB
NN.
2012.Pedoman obat generik. from http://pdf
obat generik.com//. Tanggal 17 Maret 2012,
pukul 09.05 WIB
NN. 2012. Obat generik. from http://www.obat
generik.com/docs//. Tanggal 20 Maret 2012, pukul 10.00 WIB
NN.
2012.Pedoman obat generik. from http://obat
generik.com//. Tanggal 20 Maret 2012,
pukul 14.00 WIB


